Firman Yang Digenapi (1)

Minggu, 4 Desember 2016

( Matius 1:22; Yesaya 53:1-12 )

Yesaya 53:1-12 Firman yang masih berupa Nubuatan. Matius 1:22 merupakan Firman yang digenapkan. Didalam Yesaya pasal 53 ini ada 4 tahap mengenai Yesus Kristus.
1. Tahap kelahiran Yesus Kristus (1-3). 2. Tahap Penyaliban Yesus Kristus.(4-10) 3.Tahap Kebangkitan Yesus Kristus (ayat 10). 4. Tahap Kenaikkan Yesus Kristus ( 11-12). Inilah firman yang telah digenapkan. Saat ini kita akan membahas 2 tahap saja yatiu KelahiranNya dan PenyalibanNya.


1. Kelahiran Yesus Kristus. Di dalam pasal sebelumnya Yesaya sudah menubuatkan (Yesaya 9:5-6)
• Seorang anak telah lahir untuk kita disebut: Penasehat Ajaib. Didalam Yesaya 63:16 adalah Penebus.
• Allah yang perkasa. Pemerintahan kuasaNya ada didalam bahuNya (Bahu Yesus Kristus). Mazmur 72:8 berkata pemerintahanNya ada diseluruh bumi.
• Raja Damai sejahtera (Efesus 2:14; Kolose 3:3-4) yang membuat bumi penuh damai sejahtera.

 

2. Penyaliban Yesus Kristus (Yesaya 53:7)
• Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah sebagai pengganti orang berdosa.
• Melalui kematiannya, Yesus Kristus menjadi penghapus dosa dan membuka jalan kepada Allah buat seluruh dunia.
Yesaya 53:3-5 Kehidupan Yesus Kristus dinubuatkan bahwa Ia sangat menderita hinaan dan siksaan. Apakah Dia seorang pendosa?. Diatas kayu salib Yesus Kristus menimpakan segala dosa, kejahatan kelemahan kita diatas pundakNya. Imamat 19:13 semua dosa dan kesalahan kita dihapuskan, disucikan oleh darahNya.

 

Yesaya 52:14 berkata: …Begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi. Mulai dari kelahiranNya, kematianNya, kebangkitanNya sampai KenaikanNya itu, karena kasihNya pada kita. Amin. BS

 

 

Instropeksi Diri (7)

Sabtu, 3 Desember 2016

Hanya orang-orang yang rendah hati yang dapat melakukan introspeksi diri. Sebab dengan kesombongan kita hanya akan melihat diri kita paling benar, diri kita paling baik dan diri kita pali ng mampu dan kesombongan lain yang terlihat. Kerendahan hati menjadi modal untuk kita mengenal lebih jauh hidup kita dihadapan Tuhan. Dengan kerendahan hati kepada Tuhan, kita akan dimampukan untuk hidup di dalam iman, berkenan kepada Tuhan dan menjadi orang yang tahan uji.

APAKAH TEGAK DALAM IMAN 2Kor 13:5 Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.
Salah satu contoh ketika kita mengaku percaya kepada Tuhan tetapi hidup kita diisi dengan terus mengeluh maka iman percaya kita tidak nampak bahkan hilang. Adakah ucapan syukur, adakah persekutuan dengan Tuhan? pertanyaan dapat kit ajukan secara pribadi ketika kita mau introspeksi diri.

APAKAH BERKENAN KEPADA TUHAN Ef 5:10 dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. bukan berkenan kepada diri kita sendiri. Sebab apa yang kita katakan benar dan baik itu belum tentu baik dihadapan Tuhan. dalam menjaga hidup kudus kita harus mengatakan apakan ini berkenan kepada Tuhan?

APAKAH TAHAN UJI 2Kor 13:7 Kami berdoa kepada Allah, agar kamu jangan berbuat jahat bukan supaya kami ternyata tahan uji, melainkan supaya kamu ini boleh berbuat apa yang baik, sekalipun kami sendiri tampaknya tidak tahan uji. Dari hal yang terkecil sampai hal yang terbesar dapat datang kepada kita, artinya hanya hal terkecil saja belum tentu kita bisa tahan uji. Ujian terhadap hidup kita, terhadap iman kita harus terus dilatih agar oleh pertolongan kita dimampukan untuk menghadapi segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita.

Introspeksi diri dapat membersihkan hidup kita, persekutuan kita dengan Tuhan bahkan kesempatan untuk menerima anugerah dan berkat Tuhan, saat hidup kita layak dihadapan Tuhan. Amin (LGS)

 

 

 

Instropeksi Diri (6)

Jumat, 2 Desember 2016

Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya,
Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang,
mulai dari yang tertua. …” ( Yohanes 8:7,9)

Sikap untuk mau introspeksi diri merupakan tindakan yang tidak mudah bagi orang pada umumnya. Sebaliknya, hal mencari kesalahan dan kekurangan orang lain merupakan sikap yang senang kita lakukan.

Suatu hari ada sepasang suami istri datang untuk konseling kepada saya.. Dari awal sampai akhir Si isteri ini senantiasa menyalahkan suaminya. Seolah-olah tidak ada yang benar dari suaminya!. Lalu saya berkata kepada ibu itu, “Bu, coba dipikir-pikir sejenak…sebelum ibu menikah dengan bapak, ada tidak kebaikan yang ada pada bapak yang ibu ketahui?. Ibu itu menjawab,”ya banyak to pak…begini-begini dia juga suami yang baik” (sambil tersenyum). Kemudian saya berkata kepada ibu itu, tetapi dari tadi kok saya tidak pernah mendengar dari mulut ibu sesuatu yang baik dari bapak!”. (Saya melihat ibu itu malu tersipu).

Ada hal penting yang dapat kita renungkan berkenaan dengan introspeksi diri.
1. Sikap yang jujur untuk menyadari bahwa diri kita ini penh kekrangan dan kelemahan. Kita mengerti bahwa di dalam dunia ini tidak ada manusia yang sempurna.
2. Introspeksi diri merupakan sikap kerendahan hati!.
Hidup belajar untuk mau memahami dan menerima kekurangan serta kesalahan orang lain. Menjadikan orang lain pribadi yang penting dalam kehidupan
3. Introspeksi diri merupakan sikap tidak menghakimi!.
Menghakimi merupakan tindakan yang tidak dikehendaki Tuhan. Yesus berkata, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi”. (Matius 7:2). Dengan kita mau introspeksi diri, maka kita tidak akan menghakimi orang lain… hal itu karena kita melihat diri kita jauh lebih lemah dan berdosa.
4. Introspeksi diri merupakan sikap yang bijaksana!.
Dengan mau introspeksi diri maka kita akan menjadi lebih arif dihadapan Tuhan dan sesama. Amin. NDP

 

 

Instropeksi Diri (5)

Kamis, 1 Desember 2016

Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. …” ( Yohanes 8:7,9)

Minggu ini Berit membahas tema berkenaan dengan “Introspeksi Diri”. Sebuah pelajaran dan pengajaran baik yang Yesus berikan kepada kita untuk senantiasa mau mengintrospeksi diri sehingga kita tidak gampang untuk menghakimi orang lain.

Manusia cenderung untuk lebih melihat kesalahan orang lain dari pada mau melihat kesalahan dirinya sendiri… orang lebih mudah untuk memandang kekurangan orang daripada dirinya… menyalahkan yang lain serta membenarkan dirinya. Yesus berkata, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu”. (Matius 7:1-2).

Pertanyaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi kepada Yesus dengan membawa seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah, hal tersebut bertujuan hanya untuk mencobainNya serta hanya untuk mencari kesalahan pada diri Yesus saja. (Yoh. 8:6). Dan disisi lain mereka melihat perbuatan wanita tersebut merupakan kesalahan yang besar!. Wanita itu harus dihukum berat.

Perkataan Yesus dalam nats diatas mempunyai beberapa prinsip penting yang patut kita renungkan.
1. Semua manusia itu berdosa!. (Roma 3:23).
Siapapun manusianya serta dari latar belakang apapun… semuanya telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Pastlah mereka pernah melakukan kesalahan dan pelangaran.
2. Yesus yang kudus dan tak berdosa! ( I Pet. 2:22)
Yesus tidak berdosa dan tipu daya tidak ada didalam diriNya!. Kekudusan penuh melingkupi diriNya , sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.’. (I Pet. 1:16)

Saudara yang terkasih didalam Tuhan, marilah kita bersama senantiasa mau untuk introspeksi diri agar kita menjadi bijaksana. Hidup kita tidak terjebak untuk menghakimi dan menyalahkan orang lain. Amin. NDP

 

Instropeksi Diri (4)

Rabu, 30 November 2016

Introspeksi diri menjadi alat untuk memastikan apakah kita menjadi orang yang berkenan kepada Tuhan atau hanya berkenan bagi diri kita sendiri. Introspeksi diri akan membawa kita pada pembaharuan hidup, dan penyerahan diri pada pimpinan Roh Kudus.

INTROSPEKSI DIRI DENGAN MENYADARI DOSA Yoh 8:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Yang seringkali menjadi sifat kita adalah tidak mengakui kelemahan dan keterbatasan kita. Menganggap diri selalu benar dan terlalu mudah melihat kekurangan orang lain. Ayat referensi ini menjelaskan bahwa tidak ada satupun orang yang tidak berdosa dan tidak punya kelemahan.

INTROSPEKSI DIRI DENGAN FIRMAN ALLAHIbr 4:12 (i_TB) Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Firman Tuhan membantu kita untuk introspeksi diri. Dengan Firman Tuhan kita akan segera mengetahui apa yang tidak benar yang kita lakukan, apa yang tidak berguna dan apa yang merugikan dalam hidup kita. Sehingga kita segera dapat memperbaharui sikap dan tingkah laku kita.

INTROSPEKSI DIRI DENGAN MENGINGAT TUHAN MAHA TAHU Ibr 4:13 Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab. Firman Tuhan dapat dibuktikan bahwa segala sesuatu tidak ada yang dapat disembunyikan. Setiap sifat, karakter, kebiasaan, dan segala sesuatu yang kita lakukan terbuka jelas dihadapan Tuhan. sekalipun hanya berkata yang tidak benar Tuhan tahu. Tidak dapat berbohong kepada Tuhan.

Rat 3:40 Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita, dan berpaling kepada TUHAN. Introspeksi diri merupakankehendak Tuhan agar kita mengerti dan mengingat secara pasti siapa diri kita? Dan Untuk apa kita hidup? Amin (LGS)